MUARA BULIAN-HARIMAUSANGKILAN,COM,-Keluhan menyelimuti kalangan perangkat desa di Kabupaten Batanghari. Keterlambatan pembayaran hak keuangan dan penghasilan tetap (Siltap) yang berlarut-larut sejak kepemimpinan Bupati Muhammad Fadhil Arief memicu gelombang desakan keras dari aparatur pemerintahan tingkat desa.
Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam dari para perangkat desa. Banyak di antaranya membandingkan tata kelola pencairan gaji di era kepemimpinan sebelumnya, yakni pada masa Bupati Syahirsah, yang dinilai jauh lebih stabil dan tepat waktu.
”Dulu waktu zaman Pak Syahirsah tidak seperti ini keterlambatannya. Semenjak Pak Fadhil memimpin, pencairan gaji perangkat desa sering tertunda. Keadaan ini makin sulit, sampai-sampai ada yang terpaksa menjual ‘ayam ngeram’ (ayam yang sedang mengeram) hanya untuk bisa membeli beras memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari,” ungkap salah seorang perangkat desa yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Istilah jual ayam ngeram menjadi kiasan keputusasaan warga desa di Jambi ketika terdesak kebutuhan mendasar. Menjual ternak yang sedang dalam proses berkembang biak menggambarkan betapa kritisnya ekonomi harian para pilar pelayan masyarakat desa tersebut akibat hak penghasilan yang belum kunjung dicairkan.
Perangkat desa merupakan garda terdepan pelayan publik yang berhadapan langsung dengan urusan masyarakat setiap hari. Keterlambatan gaji yang memakan waktu berbulan-bulan tidak hanya menggoyahkan kondisi ekonomi keluarga para Perangkat Desa, tetapi juga berpotensi mengganggu efektivitas roda pemerintahan di tingkat desa.
Masyarakat dan jajaran perangkat desa berharap Pemkab Batanghari di bawah kepemimpinan Fadhil Arief segera memberikan kejelasan, mengevaluasi kendala sistem pencairan, serta memprioritaskan pembayaran penghasilan tetap perangkat desa agar pelayanan publik kembali optimal tanpa menyisakan beban bagi para pekerjanya.(Red)bersambung
Jurnalis:Taufik Mersam






