BATANGHARI-HARIMAUSANGKILAN,COM,-Pihak Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Hamba Muara Bulian, Kabupaten Batanghari, memberikan klarifikasi resmi terkait pemberitaan di sejumlah media khususnya media HARIMAUSANGKILAN,COM,mengenai tuduhan lambatnya durasi pelayanan di bagian farmasi (apotek).
Direktur RSUD Hamba Batanghari, dr. Ibnu R Muda, MARS, menegaskan bahwa persoalan yang terjadi pada pasien atas nama Ratna, warga Desa Malapari, bukanlah kelalaian atau kesengajaan penundaan pelayanan, melainkan murni akibat miskomunikasi serta sistem integrasi riwayat pengobatan pasien.
dr. Ibnu menjelaskan, berdasarkan penelusuran data medis, pasien sebelumnya menjalani pengobatan di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi pada 8 Juli 2026. Dalam ketentuan medis dan pada tanggal 27 juli 2026 berobat di ruma sakit hamba.Alokasi obat yang diberikan dari fasilitas kesehatan tersebut diperuntukkan bagi jangka waktu satu bulan.
”Itu sebenarnya miskomunikasi saja. Pasien berobat di RS Raden Mattaher Jambi pada 27 Juli lalu, di mana jangka waktu pemberian obatnya adalah per bulan. Ketika hendak mengambil obat kembali di RSUD Hamba, sistem otomatis membaca bahwa alokasi obat pasien sejatinya masih ada,” ujar dr. Ibnu.
Selain kendala pembacaan riwayat obat pada sistem, dr. Ibnu juga memaparkan kondisi riil ketersediaan stok di apotek rumah sakit. Ia membenarkan terdapat satu jenis obat yang saat ini belum bisa diserahkan langsung karena sedang dalam proses pemesanan ulang akibat kekosongan stok.
”Memang ada satu jenis obat yang sedang kami pesan karena stoknya kosong. Obat tersebut dijadwalkan sudah dapat diambil oleh pihak keluarga pada tanggal 7 mendatang,” tambahnya.
Atas ketidak nyamanan yang dialami oleh pasien dan keluarga, manajemen RSUD Hamba secara terbuka menyampaikan permohonan maaf. Pihaknya berjanji akan terus melakukan evaluasi internal guna meningkatkan efisiensi dan transparansi pelayanan farmasi ke depannya.
”Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga pasien Ibu Ratna di Desa Malapari atas ketidak nyamanan ini. Masukan dari masyarakat dan media menjadi bahan evaluasi penting bagi kami untuk terus membenahi kualitas pelayanan publik di RSUD Hamba,” tutup dr. Ibnu.(*)
Jurnalis:Taufik Mersam






