BATANGHARI-HARIMAUSANGKILAN,COM,- Beban berat harus dipikul oleh para perangkat desa di Kabupaten Batanghari. Di balik tuntutan pelayanan publik yang tak pernah berhenti, mereka harus menghadapi kenyataan pahit: penunggakan Penghasilan Tetap (Siltap) yang berlarut-larut hingga memasuki bulan kedelapan.

​Skema pencairan yang dinilai tidak menentu membuat kondisi finansial para abdi desa ini kian terdesak. Pola menanti hingga delapan bulan hanya untuk menerima pembayaran satu bulan gaji seolah menjadi siklus berulang yang menjebak. Demi menyambung hidup dan memastikan kebutuhan dapur tetap terpenuhi, banyak perangkat desa yang terpaksa mengambil jalan pintas dengan berutang kesana kemari.

​Rasa frustrasi yang memuncak memicu perumpamaan getir di kalangan perangkat desa: ‘sampai kucing tumbuh tanduk pun, persoalan ini tak akan selesai.’ Ungkapan tersebut mengindikasikan tingkat krisis kepercayaan terhadap kejelasan sistem penggajian yang selama ini berjalan.

Dedikasi tinggi di lapangan dinilai tidak berbanding lurus dengan kepastian hak finansial yang seharusnya mereka terima secara berkala.

​Harapan besar sebelumnya sempat disandarkan kepada Bupati Batanghari dan pemangku kebijakan daerah untuk turun tangan memberikan formula pemecahan masalah yang permanen. Namun, hingga kini, langkah konkret yang dinantikan belum kunjung membuahkan hasil, meninggalkan kekecewaan mendalam di tingkat tapak.

​Perangkat desa merupakan garda terdepan dalam menjalankan roda birokrasi dan pembangunan di tingkat desa. Tanpa adanya intervensi tegas dari Pemerintah Kabupaten Batanghari untuk membenahi alur pencairan anggaran, kesejahteraan para pelayan masyarakat ini akan terus berada di ambang ketidakpastian. Kepastian hak bagi perangkat desa bukan sekadar urusan administratif, melainkan fondasi utama agar pelayanan kepada masyarakat desa dapat berjalan optimal.(*)

Jurnalis: Taufik Mersam