BATANGHARI — Program Cetak Sawah Rakyat di Kelurahan Pasar Baru Keramat Tinggi, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, kini memicu sorotan tajam. Proyek yang menguras anggaran negara dalam jumlah fantastis tersebut disinyalir terbengkalai dan belum memberikan asas manfaat nyata bagi masyarakat petani setempat.
Dari target awal seluas ±115 hektar, realisasi fisik di lapangan diklaim telah mencapai ±111 hektar. Namun, catatan di atas kertas tersebut berbanding terbalik dengan kondisi riil di lokasi persawahan.
Infrastruktur Mangkrak dan Lahan Terlantar
Berdasarkan pemantauan di lapangan, pelaksanaan proyek yang ditangani oleh pihak kontraktor bernama Putra ini menyisakan berbagai kendala krusial:
Tanggul Pematang Air Belum Selesai: Konstruksi tanggul penahan dan pembagi air banyak yang mangkrak, sehingga sistem irigasi tidak dapat berfungsi secara optimal untuk mengaliri sawah.
Lahan Dibiarkan Terbengkalai: Akibat belum siapnya sarana pendukung dan kendala tata air, area sawah yang telah dicetak justru dibiarkan terbengkalai dan belum bisa ditanami oleh warga.
Peran serta pengawasan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) setempat, Paryanto, beserta jajaran dinas terkait kini dipertanyakan publik guna memperjelas penanganan dan kelanjutan proyek tersebut.
Desakan Kementerian Pertanian Cek Lokasi
Melihat besarnya potensi kerugian negara akibat pembangunan yang tidak optimal, masyarakat meminta Kementerian Pertanian (Kementan) RI bersama pihak berwenang dan aparat penegak hukum untuk segera turun langsung melakukan verifikasi lapangan.
Evaluasi menyeluruh dan investigasi teknis sangat mendesak dilakukan agar anggaran negara tidak menguap begitu saja tanpa memberi dampak bagi ketahanan pangan lokal. Pihak berwenang didesak untuk mengusut tuntas pengerjaan proyek ini agar uang rakyat benar-benar kembali untuk kesejahteraan petani, bukan sekadar menjadi proyek formalitas di atas kertas.(*)
Jurnalis:M.EFRIN.SH






