BATANG HARI-HARIMAUSANGKILAN,COM,-Sejumlah warga di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, mengeluhkan perubahan mendadak pada data desil tingkat kesejahteraan ekonomi mereka. Tanpa adanya pemutakhiran data langsung atau verifikasi faktual di lapangan, status desil kesejahteraan warga melonjak naik secara drastis, sehingga mereka mendadak dikategorikan sebagai kelompok masyarakat mampu.

​Kondisi tersebut dinilai berbanding terbalik dengan realitas ekonomi yang sebenarnya dialami masyarakat di tingkat tapak.

Sebelum adanya pemutakhiran data terbaru, sejumlah warga terdaftar pada Desil 2, 3, dan 5—kategori yang mencakup kelompok masyarakat miskin hingga rentan. Namun, saat mengecek aplikasi pendataan terkini, status mereka melesat ke Desil 6 hingga 10.

​Perubahan mendadak ini memicu keheranan mendalam di kalangan warga, mengingat mayoritas dari mereka mengaku tidak pernah didatangi petugas untuk pendataan ulang di rumah.

​”Tiba-tiba saat dicek di aplikasi, desil naik dari 2, 3, dan 5 menjadi 6 sampai 10. Kami tentu heran kok bisa naik seperti itu, padahal tidak ada pendataan ke rumah dan sama sekali tidak sesuai dengan kehidupan kami sehari-hari,” ungkap salah seorang warga dengan nada kecewa.

​Ketidaksesuaian data ini juga menimpa warga yang sempat dikunjungi petugas. Kendati rumahnya telah didata secara langsung, status desil mereka tetap melambung ke kategori 6–10, padahal kondisi perekonomian mereka masih sangat memprihatinkan.

​”Ada juga warga yang didata ke rumah, tetapi desilnya tetap naik menjadi 6–10. Padahal untuk makan sehari-hari saja mereka susah,” tambah warga.

​Masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak bermaksud menuntut untuk selalu dimasukkan ke dalam kelompok penerima bantuan (Desil 1–4). Keinginan utama warga adalah kejujuran dan keakuratan data yang benar-benar menggambarkan kondisi objektif kehidupan mereka saat ini.

​Berada di rentang Desil 6 hingga 10 memberi kesan bahwa kehidupan ekonomi mereka telah berada di tingkat sejahtera atau kaya. Padahal, di tingkat Desil 5 sekalipun, kondisi perekonomian warga masih tergolong sangat sederhana.

​”Seharusnya pemerintah mengambil kebijakan dengan sangat teliti, jangan asal menaikkan desil begitu saja. Lihatlah kehidupan masyarakat di bawah yang terkadang untuk makan saja susah.

Kebijakan pemerintah terkesan tidak peka dan hanya melihat indikator ekonomi masyarakat kelas atas,” tegas warga.

​Sorotan tajam ini memicu dugaan di tengah masyarakat bahwa pemutakhiran data tersebut tidak berbasis realitas lapangan, melainkan sekadar rekayasa data di tengah situasi ekonomi yang sedang sulit. Warga mendesak instansi pemerintah terkait untuk segera melakukan evaluasi dan verifikasi ulang secara transparan, agar data kesejahteraan masyarakat tidak menyesatkan dan kebijakan pemerintah tepat sasaran.(Red)

Jurnalis; Taufik Hidayat