JAMBI — Perjalanan ribuan sopir truk batubara di perlintasan Batanghari hingga Muaro Jambi kini menjelma menjadi ancaman nyata bagi keselamatan dan mata pencaharian mereka. Jalur distribusi dari mulut tambang Kotoboyo menuju titik pembongkaran di Talang Duku dan Niaso tersebut marak dengan praktik pungutan liar (pungli) dan aksi premanisme jalanan yang makin tak terkendali.
Para pengemudi mengaku pasrah menghadapi pemerasan berkepanjangan yang memangkas habis uang jalan mereka. Pelaku dilaporkan melancarkan aksinya melalui dua modus utama, yakni mendirikan pos-pos liar di titik strategis serta menghadang armada secara langsung di tengah badan jalan untuk meminta uang secara paksa.
Aksi penghentian truk secara mendadak ini memicu dampak domino berupa kemacetan parah berkilometer-kilometer yang melumpuhkan arus lalu lintas umum. Di sisi lain, para sopir menyoroti tiadanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum (APH) setempat meski keluhan sudah berulangkali disampaikan.
”Uang jalan kami sudah pas-pasan, tapi dari Kotoboyo sampai Niaso habis dipreteli di jalan. Kalau kami melapor, tidak pernah ada tindakan. Laporan kami cuma dianggap angin lalu,” ungkap salah seorang sopir angkutan batubara.
Kondisi ini memicu desakan kuat dari masyarakat dan asosiasi angkutan jalan agar Polda Jambi beserta Polres setempat segera turun tangan membersihkan pos liar dan menindak tegas para pelaku premanisme. Tanpa langkah nyata, rute vital ini akan terus melumpuhkan urat nadi perekonomian daerah sekaligus mengorbankan para pekerja kecil.(*) 
JURNALIS:JASMAWI.SH






