BATANGHARI — Aksi pungutan liar (pungli) di kawasan rawan pungli wilayah Kabupaten Batanghari kembali memantik keresahan mendalam. Kali ini, para sopir angkutan batubara yang melintas di jalur lintas Tembesi mengeluhkan tindakan premanisme yang kian meresahkan dan berpotensi memicu gesekan fisik di jalanan.

​Titik paling disorot berada di lampu merah kedua dari arah Tembesi, tepatnya di sekitar area lapangan setempat. Berdasarkan pengakuan para sopir yang melintas, oknum pelaku tidak lagi segan-segan bersikap arogan dan memaksa ketika meminta sejumlah uang.

​”Sudah mulai rusuh kalau tidak dikasih, nyenteri mato dio bang. Awako la tuo malas ribut,” ungkap salah satu perwakilan sopir angkutan batubara yang enggan disebutkan namanya, menggambarkan rasa frustrasi menghadapi intimidasi di jalan.

​Modus operandi pelaku terbilang nekat.
Sopir menyebutkan bahwa oknum tersebut kerap mengenakan atribut khas berupa topi mirip seragam era pendudukan Jepang atau pekerja romusa saat beroperasi memeras para pengemudi yang lewat. Praktik lancang ini kontras dengan jalur alternatif lain seperti wilayah Koto Boyo yang diklaim relatif lebih tertib karena berada di bawah pengawasan Satgas.

​Para pengemudi kini mendesak Aparat Penegak Hukum (APH), khususnya jajaran Polres Batanghari dan Polsek Tembesi, untuk segera turun tangan menindak tegas para pelaku. Kehadiran preman berkedok pengatur jalan ini dinilai sudah mencoreng keamanan wilayah dan membebani para pekerja transportir yang beroperasi di tengah himpitan ekonomi.

​Masyarakat dan para sopir berharap laporan ini bukan sekadar angin lalu, melainkan segera ditindaklanjuti dengan patroli berkala serta penangkapan di tempat kejadian perkara guna memulihkan rasa aman bagi pengguna jalan di bumi serentak bak regam tersebut.(Red)

Jurnalis: JASMAWI.SH